Budidaya Kelapa Sawit

Budidaya kelapa sawit telah banyak memberikan keuntungan bagi petani di Indonesia. Kelapa sawit telah banyak dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng dan banyak produk lainnya.

Di samping kontroversi di bidang perkebunan kelapa sawit yang sering menyebabkan polemik, industri perkebunan sawit semakin banyak dikelola. Hal ini dikarenakan banyaknya permintaan minyak kelapa sawit dan produk turunannya.

Minyak goreng termasuk ke dalam bahan pokok yang tentunya selalu dibutuhkan masyarakat dan industri. Pasar minyak goreng tidak pernah sepi dan justru produk olahan kelapa sawit memiliki potensi yang tinggi sebagai komoditas ekspor.

Perkebunan Kelapa Sawit

Budidaya Kelapa Sawit
Budidaya Kelapa Sawit

Kebun kelapa sawit umumnya dibangun di daerah bekas hutan. Baik hutan primer maupun hutan sekunder bisa diolah menjadi perkebunan sawit. Hal ini adalah penyebab utama mengapa kontroversi pembukaan lahan sering terjadi.

Kebun kelapa sawit juga bisa dibangun di daerah bekas perkebunan tanaman lain. Banyak perkebunan kelapa sawit dibuat di bekas kebun kopi, karet, ataupun kelapa. Bahkan, ada sebagian kebun dibuat di bekas padang alang-alang.

Hal terpenting yang harus diperhatikan ketika membuka lahan adalah menjaga lapisan tanahnya tetap subur dan baik untuk perkebunan. Untuk membuka lahan, ada berbagai tahapan yang harus dilalui.

Langkah pertama adalah dengan menyediakan tempat untuk menanam bibit kelapa sawit. Lama pembukaan lahan dan alat yang harus digunakan sangat bergantung pada kondisi lahan.

Baca Juga : Budidaya Vanili

Wilayah Hutan untuk Perkebunan Sawit

Perkebunan Kelapa Sawit

Anda tentunya sering mendengar mengenai pembabatan hutan untuk kepentingan membangun perkebunan kelapa sawit. Pertama, semak dan pohon ditebang untuk membuka area penanaman.

Proses ini sering melibatkan alat berat seperti bulldozer untuk efisiensi waktu dan biaya. Penebangan umumnya dilakukan dengan satu arah untuk memudahkan proses evakuasi batang pohon.

Pada proses ini, biasanya diadakan pembakaran hutan untuk menyingkirkan sisa-sisa pohon yang ditebang. Jika tidak menggunakan prosedur yang benar dan legal, proses pembakaran hutan inilah yang akhirnya menyebabkan bencana kebakaran hutan yang sering terjadi.

Namun demikian, apabila dilakukan dengan proses yang tepat dan aman, pembakaran tidaklah berbahaya. Selanjutnya, sisa-sisa pohon dan semak dibiarkan selama kurang lebih 6 bulan sebelum proses selanjutnya dilakukan.

Tanah Alang – alang

Ada dua jenis prosedur yang bisa Anda lakukan apabila Anda akan mengelola tanah alang-alang. Prosedur mekanis dan kimia bisa diterapkan untuk mengolah tanah alang-alang untuk kebun sawit.

Langkah mekanis dilakukan dengan membajak dan menggaru. Umumnya, proses membajak lahan dilakukan sebanyak dua kali. Setelah itu, proses penggaruan dilakukan sebanyak 3 kali. Proses di antara keduanya harus dilakukan bergiliran dalam selang waktu 3 minggu.

Ketika proses tersebut sudah usai, pemantauan harus tetap dilakukan. Jika alang-alang masih tumbuh, Anda harus memberantas dengan bahan kimia herbisida agar seluruh lahan bebas dari alang-alang.

Konversi dan Peremajaan Lahan Budidaya Kelapa Sawit

Selain membuka lahan baru, kebun sawit   bisa juga dibuka di lahan lama dengan langkah-langkah peremajaan. Konversi tanah adalah membuka kebun kelapa sawit dari bekas perkebunan lain seperti kebun karet, lada, the, kopi, ataupun kelapa.

Sedangkan peremajaan dilakukan pada kebun sawit yang sudah tua. Kebun kelapa sawit yang sudah tidak produktif harus diolah kembali sehingga dapat lebih optimal.

Prosedur pembukaan perkebunan sawit melalui metode konversi dinilai jauh lebih mudah karena lahan memiliki lebih sedikit pepohonan. Selain itu, ada pula jalan-jalan setapak dari perkebunan yang lalu. Ada berbagai teknik untuk melakukan prosedur konversi ataupun peremajaan.

Namun demikian, yang paling penting dalam semua prosesnya adalah mengurangi pembiakan hama. Pohon-pohon pada kebun yang lama umumnya harus diracun kemudian ditebang. Setelah itu, pohon dikumpulkan dan dibakar. Seluruh proses ini akan meninggalkan sisa tanaman yang tidak terlalu banyak.

Selanjutnya, perkebunan harus dilengkapi dengan teras, rorak, parit drainase, dan juga benteng. Untuk mebuat perkebunan berproduksi optimal, penanaman tanaman penutup juga harus dilakukan.

Penanaman pada Budidaya Kelapa Sawit

Perlu Anda ketahui bahwa kebun sawit   harus disiapkan 3 bulan sebelum masa tanam. Oleh karena itu, budidaya ini harus direncanakan dengan sangat baik. Pengolahan lahan harus tepat waktu karena masa tanam juga harus memperhatikan kondisi cuaca.

Langkah awal pada proses penanaman adalah membuat lubang tanam. Ukurang lubang ditentukan besar dan umur bibit kelapa sawit yang akan ditanam. Selain itu, Anda juga harus memperhatikan pertumbuhan akar bibit.

Tekstur tanah juga menentukan ukurang lubang tanam yang bisa digunakan. Berikut adalah ukuran umum yang bisa digunakan:

  • 45 x 45 x 40 cm
  • 60 x 60 x 50 cm
  • 60 x 60 x 60 cm.

Umur dan Tinggi Bibit

Perkebunan Sawit

Anda harus memperhatikan umur bibit dan ukurannya ketika mulai proses penanaman. Hal ini dikarenakan potensi kematian bibit yang tinggi apabila Anda tidak teliti memindah bibit dengan umur yang sesuai. Pastikan bibit kelapa sawit berumur satu tahun sampai dengan 14 bulan untuk dipindahkan.

Bibit yang terlalu muda akan mudah terserang bibit penyakit. Akan tetapi, kebanyakan bertanya apakah bibit yang lebih dewasa umurnya akan lebih baik dan sehat.

Fakta di lapangan menyatakan bahwa bibit yang terlalu tua juga kurang baik karena akan menambah biaya. Selain itu, waktu tanam akan lebih lama jika bibit terlalu tua. Bibit yang cukup umur tingginya mencapai 70-180 cm.

Budidaya kelapa sawit memerlukan modal dan keterampilan yang memadai. Hal ini dikarenakan kebun sawit   adalah kebun produksi yang cukup permanen. Selain modal, Anda juga harus memahami manajemen perkebunan untuk sukses pada usaha perkebunan kelapa sawit.

Tinggalkan komentar